Pasal 477 ayat (1) huruf g KUHP
(1)
Dipidana dengan pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun atau pidana denda paling banyak kategori V, Setiap Orang yang melakukan:
g.
pencurian secara bersama-sama dan bersekutu.
(KUHP hlm. 167)
Penjelasan Pasal 477 huruf g KUHP
Cukup jelas.
(KUHP hlm. 325)
ISTILAH BERSEKUTU TIDAK DIRUMUSKAN DALAM UNDANG-UNDANG:
PENJELASAN PENYUSUN
Istilah bersekutu tidak dirumuskan dalam Bab Ketentuan Umum KUHP dan tidak diuraikan dalam Penjelasan Pasal 477. Anotasi KUHP juga tidak menguraikannya, dan hanya menegaskan bahwa hal-hal yang memberatkan bersifat limitatif.
Penelusuran atas seluruh KUHP menunjukkan istilah ini muncul pada 10 tempat, seluruhnya dalam rumusan pasal, tidak satu pun sebagai pengertian. Pada sebagian pasal urutannya terbalik menjadi bersekutu dan bersama-sama, dan pada satu tempat bahkan dipakai kata penghubung "atau", yaitu bersekutu atau bersama-sama.
Rumusan pengertiannya ditemukan pada putusan pengadilan, yaitu adanya kerja sama yang disadari antara para pelaku, adanya kehendak bersama sebelum atau pada saat perbuatan dilakukan, dan adanya pembagian peran dalam pelaksanaannya. Kutipan lengkapnya ada pada bagian Contoh Putusan Pengadilan unsur ini.
DUA HAL YANG HARUS ADA BERSAMA:
PENJELASAN PENYUSUN
Rumusan Pasal 477 ayat (1) huruf g memakai kata penghubung "dan", bukan "atau". Dengan demikian keduanya harus ada, yaitu perbuatan dilakukan oleh lebih dari 1 orang, dan di antara mereka terdapat kerja sama dalam pelaksanaannya.
Pemakaian kata "atau" pada pasal lain dalam KUHP justru menguatkan pembacaan ini, karena menunjukkan pembentuk undang-undang memperlakukan bersama-sama dan bersekutu sebagai 2 hal yang berbeda, dan memilih secara sadar kapan keduanya dijadikan syarat kumulatif.
PERBEDAAN DENGAN PENYERTAAN DAN PEMBANTUAN:
Pasal 20 KUHP
Setiap Orang dipidana sebagai pelaku Tindak Pidana jika:
a.
melakukan sendiri Tindak Pidana;
b.
melakukan Tindak Pidana dengan perantaraan alat atau menyuruh orang lain yang tidak dapat dipertanggungjawabkan;
c.
turut serta melakukan Tindak Pidana; atau
d.
menggerakkan orang lain supaya melakukan Tindak Pidana dengan cara memberi atau menjanjikan sesuatu, menyalahgunakan kekuasaan atau martabat, melakukan Kekerasan, menggunakan Ancaman Kekerasan, melakukan penyesatan, atau dengan memberi kesempatan, sarana, atau keterangan.
(KUHP hlm. 10)
Pasal 21 ayat (1) KUHP
Setiap Orang dipidana sebagai pembantu Tindak Pidana jika dengan sengaja:
a.
memberi kesempatan, sarana, atau keterangan untuk melakukan Tindak Pidana; atau
b.
memberi bantuan pada waktu Tindak Pidana dilakukan.
(KUHP hlm. 11)
Pasal 21 ayat (3) KUHP
Pidana untuk pembantuan melakukan Tindak Pidana paling banyak 2/3 (dua per tiga) dari maksimum ancaman pidana pokok untuk Tindak Pidana yang bersangkutan.
(KUHP hlm. 11)
PENJELASAN PENYUSUN
Apabila seseorang hanya memberi kesempatan atau sarana tanpa turut melaksanakan pengambilan, kedudukannya adalah pembantu dengan ancaman pidana paling banyak 2/3, bukan pelaku pencurian secara bersama-sama dan bersekutu. Penyidik karena itu menguraikan peran masing-masing orang secara terpisah, bukan menyatakan mereka bersekutu semata-mata karena berada di tempat yang sama.
BATAS DENGAN PENCURIAN RINGAN:
Pasal 478 KUHP
Jika Tindak Pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 476 dan Pasal 477 ayat (1) huruf f dan huruf g dilakukan tidak dalam sebuah rumah atau pekarangan tertutup yang ada rumahnya, dan harga Barang yang dicurinya tidak lebih dari Rp500.000,00 (lima ratus ribu rupiah), dipidana karena pencurian ringan, dengan pidana denda paling banyak kategori II.
(KUHP hlm. 167)
PENJELASAN PENYUSUN
Pasal 478 KUHP menyebut huruf g secara tegas, sama seperti huruf f. Penyidik karena itu wajib memeriksa 2 hal sebelum menerapkan huruf g, yaitu apakah perbuatan dilakukan di luar rumah atau pekarangan tertutup yang ada rumahnya, dan berapa harga Barang yang dicuri. Apabila keduanya terpenuhi, yang berlaku adalah Pasal 478 KUHP dengan ancaman pidana denda, bukan Pasal 477 KUHP dengan ancaman pidana penjara 7 tahun.