Unsur dilakukan secara bersama-sama dan bersekutu
Penjelasan
Pasal 477 ayat (1) huruf g KUHP
(1)
Dipidana dengan pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun atau pidana denda paling banyak kategori V, Setiap Orang yang melakukan:
g.
pencurian secara bersama-sama dan bersekutu.
(KUHP hlm. 167)
Penjelasan Pasal 477 huruf g KUHP
Cukup jelas.
(KUHP hlm. 325)
ISTILAH BERSEKUTU TIDAK DIRUMUSKAN DALAM UNDANG-UNDANG:
PENJELASAN PENYUSUN
Istilah bersekutu tidak dirumuskan dalam Bab Ketentuan Umum KUHP dan tidak diuraikan dalam Penjelasan Pasal 477. Anotasi KUHP juga tidak menguraikannya, dan hanya menegaskan bahwa hal-hal yang memberatkan bersifat limitatif.
Penelusuran atas seluruh KUHP menunjukkan istilah ini muncul pada 10 tempat, seluruhnya dalam rumusan pasal, tidak satu pun sebagai pengertian. Pada sebagian pasal urutannya terbalik menjadi bersekutu dan bersama-sama, dan pada satu tempat bahkan dipakai kata penghubung "atau", yaitu bersekutu atau bersama-sama.
Rumusan pengertiannya ditemukan pada putusan pengadilan, yaitu adanya kerja sama yang disadari antara para pelaku, adanya kehendak bersama sebelum atau pada saat perbuatan dilakukan, dan adanya pembagian peran dalam pelaksanaannya. Kutipan lengkapnya ada pada bagian Contoh Putusan Pengadilan unsur ini.
DUA HAL YANG HARUS ADA BERSAMA:
PENJELASAN PENYUSUN
Rumusan Pasal 477 ayat (1) huruf g memakai kata penghubung "dan", bukan "atau". Dengan demikian keduanya harus ada, yaitu perbuatan dilakukan oleh lebih dari 1 orang, dan di antara mereka terdapat kerja sama dalam pelaksanaannya.
Pemakaian kata "atau" pada pasal lain dalam KUHP justru menguatkan pembacaan ini, karena menunjukkan pembentuk undang-undang memperlakukan bersama-sama dan bersekutu sebagai 2 hal yang berbeda, dan memilih secara sadar kapan keduanya dijadikan syarat kumulatif.
PERBEDAAN DENGAN PENYERTAAN DAN PEMBANTUAN:
Pasal 20 KUHP
Setiap Orang dipidana sebagai pelaku Tindak Pidana jika:
a.
melakukan sendiri Tindak Pidana;
b.
melakukan Tindak Pidana dengan perantaraan alat atau menyuruh orang lain yang tidak dapat dipertanggungjawabkan;
c.
turut serta melakukan Tindak Pidana; atau
d.
menggerakkan orang lain supaya melakukan Tindak Pidana dengan cara memberi atau menjanjikan sesuatu, menyalahgunakan kekuasaan atau martabat, melakukan Kekerasan, menggunakan Ancaman Kekerasan, melakukan penyesatan, atau dengan memberi kesempatan, sarana, atau keterangan.
(KUHP hlm. 10)
Pasal 21 ayat (1) KUHP
Setiap Orang dipidana sebagai pembantu Tindak Pidana jika dengan sengaja:
a.
memberi kesempatan, sarana, atau keterangan untuk melakukan Tindak Pidana; atau
b.
memberi bantuan pada waktu Tindak Pidana dilakukan.
(KUHP hlm. 11)
Pasal 21 ayat (3) KUHP
Pidana untuk pembantuan melakukan Tindak Pidana paling banyak 2/3 (dua per tiga) dari maksimum ancaman pidana pokok untuk Tindak Pidana yang bersangkutan.
(KUHP hlm. 11)
PENJELASAN PENYUSUN
Apabila seseorang hanya memberi kesempatan atau sarana tanpa turut melaksanakan pengambilan, kedudukannya adalah pembantu dengan ancaman pidana paling banyak 2/3, bukan pelaku pencurian secara bersama-sama dan bersekutu. Penyidik karena itu menguraikan peran masing-masing orang secara terpisah, bukan menyatakan mereka bersekutu semata-mata karena berada di tempat yang sama.
BATAS DENGAN PENCURIAN RINGAN:
Pasal 478 KUHP
Jika Tindak Pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 476 dan Pasal 477 ayat (1) huruf f dan huruf g dilakukan tidak dalam sebuah rumah atau pekarangan tertutup yang ada rumahnya, dan harga Barang yang dicurinya tidak lebih dari Rp500.000,00 (lima ratus ribu rupiah), dipidana karena pencurian ringan, dengan pidana denda paling banyak kategori II.
(KUHP hlm. 167)
PENJELASAN PENYUSUN
Pasal 478 KUHP menyebut huruf g secara tegas, sama seperti huruf f. Penyidik karena itu wajib memeriksa 2 hal sebelum menerapkan huruf g, yaitu apakah perbuatan dilakukan di luar rumah atau pekarangan tertutup yang ada rumahnya, dan berapa harga Barang yang dicuri. Apabila keduanya terpenuhi, yang berlaku adalah Pasal 478 KUHP dengan ancaman pidana denda, bukan Pasal 477 KUHP dengan ancaman pidana penjara 7 tahun.
Pembuktian
PENJELASAN PENYUSUN
Seluruh isi bagian ini adalah rumusan/penjelasan penyusun, bukan kutipan sumber
Unsur ini dinyatakan terpenuhi apabila penyidik dapat membuktikan 3 hal:
1.
Perbuatan dilakukan oleh lebih dari 1 orang
Buktikan bahwa pengambilan Barang dilakukan oleh 2 orang atau lebih.
Pembuktiannya melalui:
•
Keterangan saksi yang melihat jumlah pelaku di tempat kejadian
•
Rekaman kamera pengawas atau alat bukti elektronik lainnya
•
Keterangan tersangka mengenai keberadaan pelaku lain
•
Barang bukti yang menunjukkan keterlibatan lebih dari 1 orang, misalnya kendaraan pengangkut atau alat yang dipakai bergantian
2.
Terdapat kerja sama dalam pelaksanaan
Buktikan adanya pembagian peran di antara para pelaku, bukan sekadar kebetulan berada di tempat yang sama.
Pembuktiannya melalui:
•
Keterangan mengenai peran masing-masing pelaku pada saat pengambilan Barang
•
Keterangan mengenai adanya kesepakatan atau ajakan sebelum perbuatan dilakukan
•
Keterangan mengenai persiapan bersama, misalnya mengambil alat atau kendaraan sebelum menuju lokasi
•
Keterangan mengenai perbuatan saling mengamankan keadaan sebelum pengambilan dimulai
•
Keterangan mengenai apa yang dilakukan terhadap Barang sesudahnya, termasuk pembagian hasil
3.
Kedudukan masing-masing pelaku
Pastikan setiap orang yang diperiksa benar berkedudukan sebagai pelaku menurut Pasal 20 KUHP, bukan sebagai pembantu menurut Pasal 21 KUHP. Uraikan peran tiap orang secara terpisah.
Pembuktiannya melalui:
•
Keterangan masing-masing tersangka mengenai perbuatannya sendiri dan perbuatan orang lain
•
Keterangan saksi yang membandingkan perbuatan tiap orang di tempat kejadian
•
Kesesuaian antara keterangan tersebut dengan barang bukti dan hasil pemeriksaan tempat kejadian perkara
HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN:
Rumusan pasal memakai kata penghubung "dan", sehingga keduanya harus ada. Jumlah orang yang lebih dari 1 saja tidak cukup, dan kerja sama tanpa lebih dari 1 orang tidak mungkin. Penyidik menguraikan keduanya, tidak hanya menyebutkan jumlah pelaku.
Apabila seseorang hanya memberi kesempatan, sarana, atau keterangan tanpa turut melaksanakan pengambilan, kedudukannya adalah pembantu dengan ancaman pidana paling banyak 2/3 menurut Pasal 21 ayat (3) KUHP. Perbedaan ini besar akibatnya, sehingga peran masing-masing wajib diuraikan secara terpisah dalam berkas, bukan disamakan begitu saja karena mereka berada di tempat yang sama.
Belum ditemukan rumusan pengertian bersekutu, baik dalam KUHP, Penjelasannya, Anotasi KUHP, maupun putusan yang tersedia. Penyidik karena itu menguraikan keadaan yang sebenarnya terjadi secara rinci, yaitu siapa mengajak siapa, apa peran masing-masing, dan bagaimana hasilnya diperlakukan, tanpa menyimpulkan sendiri bahwa suatu keadaan merupakan persekutuan.
Sebelum menetapkan Pasal 477 ayat (1) huruf g, penyidik wajib memastikan harga Barang yang dicuri dan tempat kejadian. Apabila perbuatan dilakukan tidak dalam rumah atau pekarangan tertutup yang ada rumahnya dan harga Barang tidak lebih dari Rp500.000,00, yang berlaku adalah Pasal 478 KUHP tentang pencurian ringan dengan ancaman pidana denda paling banyak kategori II, bukan pidana penjara 7 tahun.
Apabila perbuatan juga dilakukan pada Malam di dalam rumah atau pekarangan tertutup sebagaimana huruf e, dan disertai cara sebagaimana huruf f, yang berlaku adalah Pasal 477 ayat (2) KUHP dengan ancaman pidana penjara paling lama 9 tahun.
Apabila pelaku sudah mulai melaksanakan perbuatan tetapi tidak selesai bukan semata-mata karena kehendaknya sendiri, penyidik menerapkan Pasal 477 ayat (1) huruf g juncto Pasal 17 ayat (1) KUHP tentang percobaan, dengan ancaman pidana paling banyak 2/3 menurut Pasal 17 ayat (3) KUHP. Sebaliknya, apabila tidak selesai karena kehendaknya sendiri secara sukarela, menurut Pasal 18 ayat (1) KUHP perbuatan tersebut tidak dipidana.
Contoh Putusan Pengadilan
Putusan Nomor 20/Pid.B/2026/PN Ngb
Menimbang, bahwa yang dimaksud dengan "secara bersama-sama" adalah bahwa perbuatan pidana tersebut dilakukan sekurang-kurangnya oleh dua orang yang dapat dipertanggungjawabkan menurut hukum pidana, dan masing-masing mempunyai peranan dalam terwujudnya tindak pidana tersebut;
(Putusan PN Nanga Bulik Nomor 20/Pid.B/2026/PN Ngb hlm. 43)
Putusan Nomor 20/Pid.B/2026/PN Ngb
Menimbang, bahwa yang dimaksud dengan "bersekutu" adalah adanya kerja sama yang disadari antara para pelaku dalam melakukan tindak pidana, dimana sebelum atau pada saat perbuatan dilakukan terdapat kehendak bersama untuk melaksanakan perbuatan tersebut, meskipun tidak harus direncanakan secara matang jauh sebelumnya, namun cukup apabila terdapat kesepahaman dan pembagian peran dalam pelaksanaannya;
(Putusan PN Nanga Bulik Nomor 20/Pid.B/2026/PN Ngb hlm. 43)
PENJELASAN PENYUSUN
Inilah satu-satunya rumusan pengertian bersekutu yang ditemukan sejauh ini. KUHP, Penjelasannya, maupun Anotasi KUHP tidak merumuskannya. Rumusan majelis ini memberi 3 tolok ukur yang dapat dipakai penyidik, yaitu adanya kerja sama yang disadari, adanya kehendak bersama sebelum atau pada saat perbuatan dilakukan, dan adanya pembagian peran dalam pelaksanaan.
Perlu diperhatikan bahwa menurut rumusan ini perencanaan matang jauh sebelumnya tidak disyaratkan. Kesepakatan yang timbul beberapa saat sebelum perbuatan sudah cukup, sepanjang kesepahaman dan pembagian perannya terbukti.
Putusan Nomor 20/Pid.B/2026/PN Ngb
Menimbang, bahwa dari uraian fakta hukum diatas telah tergambar dan setidak-tidaknya dapat dipahami bahwa kerjasama antara Terdakwa dengan pelaku lain tersebut terjalin dengan tanpa adanya suatu tipu muslihat atau relasi kuasa yang timpang antara keduanya dengan motif untuk mendapatkan keuntungan ekonomi serta cukup dipandang telah sempurna tindakan tersebut apabila terdapat kerja sama yang disadari antara dua orang atau lebih yang mempunyai kehendak bersama untuk melakukan tindak pidana serta adanya peranan masing-masing yang saling menunjang dalam pelaksanaannya;
(Putusan PN Nanga Bulik Nomor 20/Pid.B/2026/PN Ngb hlm. 44)
PENJELASAN PENYUSUN
Pertimbangan ini menambahkan 2 hal yang berguna bagi penyidik. Pertama, majelis memeriksa ada tidaknya tipu muslihat maupun relasi kuasa yang timpang di antara para pelaku. Kedua, majelis menilai peranan masing-masing harus saling menunjang, bukan sekadar hadir bersama.
Pemeriksaan mengenai relasi kuasa itu penting karena bila ternyata salah seorang digerakkan oleh yang lain, kedudukannya bukan pelaku bersama melainkan menyangkut ketentuan penyertaan atau pembantuan. Uraian mengenai hal itu ada pada bagian Penjelasan unsur ini.
Putusan Nomor 20/Pid.B/2026/PN Ngb
Menimbang, bahwa oleh karena seluruh unsur dalam Pasal 477 ayat (1) huruf e dan g Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) sebagaimana dakwaan Primair Penuntut Umum telah terbukti, maka dengan sendirinya unsur "setiap orang" pun dapat dipersalahkan kepada Terdakwa, sehingga Majelis Hakim berkesimpulan bahwa Terdakwa telah terbukti secara sah melakukan tindak pidana "pencurian dikualifikasi" sebagaimana dakwaan Primair Penuntut Umum;
(Putusan PN Nanga Bulik Nomor 20/Pid.B/2026/PN Ngb hlm. 44)
PENJELASAN PENYUSUN
Dalam putusan ini huruf g diterapkan bersama huruf e, sehingga ancaman pidananya mengacu pada Pasal 477 ayat (2) KUHP. Uraian mengenai hal itu ada pada bagian Contoh Putusan unsur huruf e.
Perlu diperhatikan pula bahwa salah seorang pelaku dalam perkara ini masih di bawah umur dan terhadapnya ditempuh mekanisme Diversi, sehingga hanya 1 orang yang diajukan ke persidangan. Keadaan tersebut tidak menghalangi terpenuhinya unsur bersama-sama dan bersekutu, karena yang dinilai adalah perbuatannya, bukan jumlah orang yang akhirnya diadili.
Draft Pertanyaan Korban
1.
Tanyakan berapa orang pelaku yang diketahui atau dilihat korban saat kejadian (untuk menguatkan pembuktian perbuatan dilakukan oleh lebih dari 1 orang)
2.
Tanyakan apa yang dilakukan masing-masing pelaku pada saat pengambilan barang menurut pengetahuan korban (untuk menguatkan pembuktian adanya pembagian peran di antara para pelaku)
3.
Tanyakan apakah terdapat rekaman kamera pengawas atau alat perekam lain di sekitar lokasi, dan apa yang terlihat pada rekaman tersebut (untuk menguatkan pembuktian jumlah pelaku dan pembagian peran melalui bukti elektronik sesuai Pasal 242 KUHAP)
4.
Tanyakan apakah korban mengenal para pelaku dan bagaimana hubungan korban dengan mereka (guna menggali kemungkinan pelaku mengetahui keadaan barang sebelum perbuatan dilakukan)
5.
Tanyakan berapa harga barang yang diambil dan di mana tepatnya barang itu berada sebelum diambil (guna memeriksa kemungkinan berlakunya Pasal 478 KUHP tentang pencurian ringan)
CATATAN PENTING:
Hindari pertanyaan yang bersifat menjerat. Pasal 144 huruf e KUHAP menentukan hak Korban untuk bebas dari pertanyaan yang menjerat. Pertanyaan menjerat adalah pertanyaan yang sudah memuat jawaban di dalamnya atau mengandaikan fakta yang belum terbukti.
(KUHAP hlm. 77)
Contoh pertanyaan 1 - Jumlah pelaku:
✕
Menjerat: "Apakah pelakunya ada dua orang?"
✓
Benar: "Jelaskan berapa orang yang Saudara ketahui terlibat dalam kejadian tersebut"
Contoh pertanyaan 2 - Peran masing-masing pelaku:
✕
Menjerat: "Apakah yang satu naik ke atas dan yang lain menyambut di bawah?"
✓
Benar: "Jelaskan apa yang dilakukan masing-masing orang tersebut menurut yang Saudara ketahui"
Contoh pertanyaan 3 - Rekaman kamera pengawas:
✕
Menjerat: "Dari rekaman terlihat dua orang bekerja sama mengambil barang, bukan?"
✓
Benar: "Apakah terdapat rekaman kamera pengawas di sekitar lokasi? Jelaskan apa yang terlihat pada rekaman tersebut"
Contoh pertanyaan 4 - Hubungan dengan pelaku:
✕
Menjerat: "Para pelaku adalah tetangga Saudara yang sudah tahu isi muatan mobil itu?"
✓
Benar: "Apakah Saudara mengenal orang-orang tersebut? Jelaskan bagaimana hubungan Saudara dengan mereka"
PENJELASAN PENYUSUN
Pertanyaan 5 mengenai harga barang dan tempat kejadian wajib diajukan pada unsur ini. Pasal 478 KUHP menyebut huruf g secara tegas, sehingga pencurian secara bersama-sama dan bersekutu yang dilakukan di luar rumah atau pekarangan tertutup yang ada rumahnya, dengan harga barang tidak lebih dari Rp500.000,00, berubah menjadi pencurian ringan dengan ancaman pidana denda.
Draft Pertanyaan Saksi
1.
Tanyakan berapa orang yang saksi lihat berada di tempat kejadian pada saat pengambilan barang (untuk menguatkan pembuktian perbuatan dilakukan oleh lebih dari 1 orang)
2.
Tanyakan apa yang dilakukan masing-masing orang tersebut menurut yang saksi lihat (untuk menguatkan pembuktian adanya pembagian peran dalam pelaksanaan)
3.
Tanyakan apakah saksi melihat atau mendengar adanya ajakan, pembicaraan, atau kesepakatan di antara para pelaku sebelum perbuatan dilakukan (untuk menguatkan pembuktian adanya kesepakatan sebelum perbuatan dilakukan)
4.
Apabila saksi pernah melihat rekaman kamera pengawas, tanyakan apa yang terlihat mengenai perbuatan masing-masing pelaku (untuk menguatkan pembuktian pembagian peran melalui bukti elektronik sesuai Pasal 242 KUHAP)
5.
Apabila saksi mengetahui keadaan setelah kejadian, tanyakan apakah saksi mengetahui adanya penjualan barang tersebut dan pembagian hasilnya (untuk menguatkan pembuktian kerja sama yang berlanjut hingga setelah pengambilan)
CATATAN PENTING:
Hindari pertanyaan yang bersifat menjerat. Pasal 143 huruf f KUHAP menentukan hak Saksi untuk bebas dari pertanyaan yang menjerat. Pertanyaan menjerat adalah pertanyaan yang sudah memuat jawaban di dalamnya atau mengandaikan fakta yang belum terbukti.
(KUHAP hlm. 77)
Contoh pertanyaan 1 - Jumlah orang di lokasi:
✕
Menjerat: "Apakah Saudara melihat dua orang di lokasi tersebut?"
✓
Benar: "Jelaskan apa yang Saudara lihat di lokasi tersebut pada saat kejadian"
Contoh pertanyaan 2 - Peran masing-masing:
✕
Menjerat: "Apakah salah satu di antara mereka bertugas menyambut barang dari bawah?"
✓
Benar: "Jelaskan apa yang dilakukan masing-masing orang tersebut menurut yang Saudara lihat"
Contoh pertanyaan 3 - Ajakan atau kesepakatan:
✕
Menjerat: "Saudara mendengar salah satu dari mereka mengajak yang lain mengambil barang itu?"
✓
Benar: "Apakah Saudara melihat atau mendengar pembicaraan di antara mereka sebelum kejadian? Jelaskan"
Contoh pertanyaan 4 - Isi rekaman:
✕
Menjerat: "Pada rekaman terlihat mereka bekerja sama, bukan?"
✓
Benar: "Jelaskan apa yang Saudara lihat pada rekaman tersebut"
Contoh pertanyaan 5 - Penjualan dan pembagian hasil:
✕
Menjerat: "Hasil penjualannya dibagi berdua di antara mereka?"
✓
Benar: "Apakah Saudara mengetahui apa yang terjadi dengan barang tersebut setelah diambil? Jelaskan"
Draft Pertanyaan Tersangka
1.
Tanyakan siapa saja yang berada bersama tersangka di tempat tersebut pada saat itu (untuk menguatkan pembuktian perbuatan dilakukan oleh lebih dari 1 orang)
2.
Tanyakan bagaimana awal mula tersangka dan orang tersebut sampai berada di tempat itu, siapa yang mengajak, dan bagaimana kalimat ajakannya (untuk menguatkan pembuktian adanya kesepakatan sebelum perbuatan dilakukan)
3.
Tanyakan apa saja yang dipersiapkan atau dilakukan tersangka dan orang tersebut sebelum menuju lokasi (untuk menguatkan pembuktian adanya kerja sama dalam pelaksanaan)
4.
Tanyakan apa yang dilakukan tersangka dan apa yang dilakukan orang lain pada saat itu (untuk menguatkan pembuktian adanya pembagian peran, sekaligus memastikan kedudukan tersangka sebagai pelaku menurut Pasal 20 KUHP atau sebagai pembantu menurut Pasal 21 KUHP)
5.
Apabila barang sudah berpindah, tanyakan apa yang dilakukan terhadap barang setelah diambil, siapa yang menjual, dan bagaimana pembagian hasilnya (untuk menguatkan pembuktian kerja sama yang berlanjut hingga setelah pengambilan)
CATATAN PENTING:
Hindari pertanyaan yang bersifat menjerat. Menurut Pasal 32 ayat (2) KUHAP, dalam hal Penyidik melakukan intimidasi dan/atau mengajukan pertanyaan yang bersifat menjerat terhadap Tersangka, Advokat atau Pemberi Bantuan Hukum dapat menyatakan keberatan, dan menurut ayat (3) keberatan itu dicatat dalam berita acara. Pertanyaan menjerat adalah pertanyaan yang sudah memuat jawaban di dalamnya atau mengandaikan fakta yang belum terbukti.
(KUHAP hlm. 23)
Contoh pertanyaan 1 - Keberadaan pelaku lain:
✕
Menjerat: "Saudara melakukan perbuatan tersebut bersama seorang teman?"
✓
Benar: "Jelaskan siapa saja yang berada di lokasi bersama Saudara pada saat itu"
Contoh pertanyaan 2 - Awal mula kesepakatan:
✕
Menjerat: "Saudara yang mengajak teman Saudara mengambil barang itu?"
✓
Benar: "Jelaskan bagaimana awal mula Saudara sampai berada di lokasi tersebut bersama orang tersebut"
Contoh pertanyaan 3 - Persiapan sebelum perbuatan:
✕
Menjerat: "Saudara sudah menyiapkan alat sebelum berangkat ke lokasi?"
✓
Benar: "Jelaskan apa saja yang Saudara lakukan sebelum tiba di lokasi"
Contoh pertanyaan 4 - Pembagian peran:
✕
Menjerat: "Saudara yang naik ke atas sedangkan teman Saudara yang menyambut di bawah?"
✓
Benar: "Jelaskan secara rinci apa yang Saudara lakukan dan apa yang dilakukan orang lain pada saat itu"
Contoh pertanyaan 5 - Pembagian hasil:
✕
Menjerat: "Hasil penjualannya Saudara bagi dua dengan teman Saudara?"
✓
Benar: "Jelaskan apa yang terjadi dengan barang tersebut sesudahnya"
PENJELASAN PENYUSUN
Jawaban atas pertanyaan 4 menentukan apakah tersangka berkedudukan sebagai pelaku atau hanya sebagai pembantu, dan perbedaannya besar karena ancaman pidana pembantu paling banyak 2/3 menurut Pasal 21 ayat (3) KUHP. Peran masing-masing karena itu harus digali serinci mungkin dan dituangkan apa adanya, bukan disimpulkan sendiri oleh penyidik.
Pertanyaan 2, 3, dan 5 tidak hanya menguatkan unsur ini, tetapi juga menjadi bahan menilai ada tidaknya kerja sama yang sesungguhnya, sebab belum ditemukan rumusan pengertian bersekutu dalam sumber mana pun. Keterangan mengenai keadaan yang sebenarnya terjadi karena itu lebih berharga daripada pernyataan bahwa para pelaku bersekutu.