Unsur dilakukan pada malam hari di dalam rumah atau pekarangan tertutup yang ada rumahnya, oleh orang yang keberadaannya di situ tidak diketahui atau tidak dikehendaki oleh yang berhak
Penjelasan
Pasal 477 ayat (1) huruf e KUHP
(1)
Dipidana dengan pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun atau pidana denda paling banyak kategori V, Setiap Orang yang melakukan:
e.
pencurian pada Malam dalam suatu rumah atau dalam pekarangan tertutup yang ada rumahnya, yang dilakukan oleh orang yang adanya di situ tidak diketahui atau tidak dikehendaki oleh yang berhak;
(KUHP hlm. 167)
BATASAN WAKTU:
Pasal 186 KUHP
Malam adalah waktu di antara matahari terbenam dan matahari terbit.
(KUHP hlm. 58)
PENJELASAN PENYUSUN
Ukurannya adalah waktu terbenam dan terbitnya matahari, bukan gelap atau terangnya keadaan. Perbuatan pada dini hari tetap termasuk Malam selama matahari belum terbit.
BATASAN TEMPAT:
Penjelasan Pasal 477 huruf e KUHP
Yang dimaksud dengan "rumah" adalah setiap bangunan atau tempat yang sengaja dibuat atau digunakan untuk tempat kediaman atau tempat tinggal.
Yang dimaksud dengan "pekarangan tertutup" adalah sebidang tanah yang mempunyai tanda batas tertentu, baik berupa tembok, pagar, tumpukan batu, tumbuh-tumbuhan, saluran air, atau sungai.
(KUHP hlm. 324-325)
PENJELASAN PENYUSUN
Rumusan pasal menyebut rumah atau pekarangan tertutup yang ada rumahnya, sehingga pekarangan yang tidak ada rumahnya tidak termasuk.
BATASAN KEBERADAAN PELAKU:
PENJELASAN PENYUSUN
Frasa yang dilakukan oleh orang yang adanya di situ tidak diketahui atau tidak dikehendaki oleh yang berhak mensyaratkan bahwa kehadiran pelaku di tempat itu memang tidak diketahui atau tidak dikehendaki pemiliknya. Dengan demikian, orang yang kehadirannya memang dikehendaki di tempat itu, misalnya tamu atau pekerja rumah tangga, tidak memenuhi rumusan ini meskipun ia mengambil barang pada Malam di dalam rumah.
Kata penghubung yang dipakai adalah "atau", sehingga cukup salah satu terpenuhi, yaitu keberadaannya tidak diketahui, atau keberadaannya tidak dikehendaki.
KETERKAITAN DENGAN HURUF F DAN HURUF G:
Pasal 477 ayat (2) KUHP
(2)
Jika perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e disertai dengan salah satu cara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf f dan huruf g, dipidana dengan pidana penjara paling lama 9 (sembilan) tahun.
(KUHP hlm. 167)
PENJELASAN PENYUSUN
Huruf e merupakan satu-satunya huruf yang disebut dalam Pasal 477 ayat (2) KUHP. Pemberatan menjadi 9 tahun hanya berlaku bagi perbuatan huruf e yang disertai cara huruf f dan huruf g, tidak bagi huruf lain.
CATATAN TENTANG PERCOBAAN:
Pasal 17 ayat (1) KUHP
Percobaan melakukan Tindak Pidana terjadi jika niat pelaku telah nyata dari adanya permulaan pelaksanaan dari Tindak Pidana yang dituju, tetapi pelaksanaannya tidak selesai, tidak mencapai hasil, atau tidak menimbulkan akibat yang dilarang, bukan karena semata-mata atas kehendaknya sendiri.
(KUHP hlm. 9)
Pasal 17 ayat (3) KUHP
Pidana untuk percobaan melakukan Tindak Pidana paling banyak 2/3 (dua per tiga) dari maksimum ancaman pidana pokok untuk Tindak Pidana yang bersangkutan.
(KUHP hlm. 9)
Pasal 18 ayat (1) KUHP
Percobaan melakukan Tindak Pidana tidak dipidana jika pelaku setelah melakukan permulaan pelaksanaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (1):
a.
tidak menyelesaikan perbuatannya karena kehendaknya sendiri secara sukarela; atau
b.
dengan kehendaknya sendiri mencegah tercapainya tujuan atau akibat perbuatannya.
(KUHP hlm. 10)
PENJELASAN PENYUSUN
Apabila pelaku sudah memulai pelaksanaan tetapi perbuatannya tidak selesai bukan karena kehendaknya sendiri, yang berlaku adalah ketentuan percobaan. Sebaliknya, apabila tidak selesai karena kehendaknya sendiri secara sukarela, perbuatan tersebut tidak dipidana. Penyidik karena itu wajib menggali secara tegas apa yang menyebabkan perbuatan tidak selesai.
Pembuktian
PENJELASAN PENYUSUN
Seluruh isi bagian ini adalah rumusan/penjelasan penyusun, bukan kutipan sumber
PUTUSAN KEDUA PENERAPAN PASAL 477 AYAT (2) KUHP
Putusan Nomor 20/Pid.B/2026/PN Ngb
Menimbang, bahwa sebelum masuk pada proses pembuktian unsur delik sebagaimana didakwakan dalam dakwaan Primair Penuntut Umum, Majelis Hakim perlu kiranya mencermati dalam konteks ancaman pidana, walaupun pada perkara in casu berdasarkan penulisan pasal dakwaan yang disusun oleh Penuntut Umum ialah diatur dan diancam pidana sebagaimana Pasal 477 ayat (1) huruf e dan g Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), akan tetapi menurut hemat Majelis Hakim terhadap ancaman pidana dalam perkara in casu ialah mengacu pada Pasal 477 ayat (2) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) yang telah secara jelas mengatur bahwa, "jika perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e disertai dengan salah satu cara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf f dan huruf g, dipidana dengan pidana penjara paling lama 9 (sembilan) tahun" meskipun secara unsur delik tetap akan diuraikan dengan mengacu pada unsur-unsur yang ada didalam Pasal 477 ayat (1) huruf e dan g Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP);
(Putusan PN Nanga Bulik Nomor 20/Pid.B/2026/PN Ngb hlm. 37)
PENJELASAN PENYUSUN
Pertimbangan ini sangat berguna bagi penyidik karena menunjukkan cara kerja Pasal 477 ayat (2) KUHP dalam praktik. Majelis menegaskan 2 hal. Pertama, unsur yang diuraikan tetap unsur ayat (1), bukan unsur tersendiri. Kedua, yang berubah hanya ancaman pidananya, menjadi paling lama 9 tahun.
Dengan demikian penyidik tetap menguraikan unsur huruf e beserta huruf f atau huruf g yang menyertainya, lalu menyebutkan ayat (2) sebagai dasar ancaman pidananya.
Putusan Nomor 20/Pid.B/2026/PN Ngb
Menimbang, bahwa dari uraian fakta hukum tersebut telah tergambar bahwa waktu kejadian sebagaimana digariskan khusus dalam unsur ini yakni malam hari serta lokasi kejadian yang dapat dipastikan ialah pekarangan tertutup dikarenakan sebagaimana keterangan saksi-saksi yang dihadirkan telah membenarkan gudang tempat kejadian merupakan bangunan yang dikelilingi pagar serta telah pula terbukti bahwa Terdakwa dapat memasuki pekarangan tersebut dengan melewati celah pagar yang telah rusak atau tidak utuh tersebut untuk menghindari pemantauan satpam atau security yang sedang berjaga;
(Putusan PN Nanga Bulik Nomor 20/Pid.B/2026/PN Ngb hlm. 43)
PENJELASAN PENYUSUN
Perlu diperhatikan bahwa dalam putusan ini majelis menyatakan unsur terpenuhi dengan menyebut pada Malam dalam suatu pekarangan tertutup, sedangkan rumusan Pasal 477 ayat (1) huruf e KUHP menyebut pekarangan tertutup yang ada rumahnya. Tempat kejadian dalam perkara tersebut merupakan gudang tempat kerja, bukan rumah maupun pekarangan yang ada rumahnya. Majelis tidak menguraikan pertimbangan mengenai syarat adanya rumah tersebut.
Perbedaan ini disampaikan apa adanya. Yang menjadi pegangan penyidik tetap rumusan Pasal 477 ayat (1) huruf e KUHP beserta Penjelasannya, yaitu bahwa pekarangan tertutup harus ada rumahnya, sebagaimana termuat pada bagian Penjelasan unsur ini.
Putusan Nomor 20/Pid.B/2026/PN Ngb
Menimbang, bahwa dalam pembuktian unsur ini, Majelis Hakim dengan memperhatikan efektifitas pembuktian, akan mengambil alih seluruh pertimbangan unsur-unsur sebelumnya (mutatis mutandis) sepanjang berkaitan dengan tindakan Terdakwa dalam perkara in casu dan hanya akan menguraikan terbatas pada waktu kejadian tindak pidana (tempus delicti) dan lokasi kejadian tindak pidana (locus delicti) yang berkelindan dengan unsur ini;
(Putusan PN Nanga Bulik Nomor 20/Pid.B/2026/PN Ngb hlm. 42)
PENJELASAN PENYUSUN
Cara majelis membatasi pembuktian huruf e pada waktu dan tempat kejadian saja berguna sebagai pegangan penyidik. Unsur pokok pencurian sudah diuraikan pada unsur sebelumnya, sehingga pada huruf e yang perlu diuraikan secara khusus adalah waktu kejadian, sifat tempat kejadian, dan keberadaan pelaku yang tidak diketahui atau tidak dikehendaki.
Contoh Putusan Pengadilan
Putusan Nomor 189/Pid.B/2026/PN Stb
Menimbang bahwa unsur diatas bersifat alternatif karena dalam unsur tersebut terdapat kata "atau" sehingga apabila perbuatan Terdakwa telah memenuhi salah satu delik dari unsur tersebut, maka Terdakwa sudah dianggap memenuhi unsur dari pasal yang didakwakan kepadanya;
(Putusan PN Stabat Nomor 189/Pid.B/2026/PN Stb hlm. 14)
Putusan Nomor 189/Pid.B/2026/PN Stb
Menimbang bahwa yang dimaksud dengan malam adalah waktu antara matahari terbenam dan terbit dan yang dimaksud dengan rumah adalah tempat yang dipergunakan untuk berdiam siang-malam artinya untuk makan, tidur dan sebagainya sedangkan pekarangan tertutup adalah suatu pekarangan yang sekelilingnya ada tanda-tanda atau batas yang kelihatannya nyata seperti selokan, pagar bambu, pagar kawat, dan sebagainya;
(Putusan PN Stabat Nomor 189/Pid.B/2026/PN Stb hlm. 14)
PENJELASAN PENYUSUN
Rumusan rumah dan pekarangan tertutup yang dipakai majelis dalam putusan ini berbeda dari Penjelasan Pasal 477 KUHP. Majelis merumuskan rumah sebagai tempat untuk berdiam siang dan malam, sedangkan Penjelasan Pasal 477 KUHP merumuskannya sebagai setiap bangunan atau tempat yang sengaja dibuat atau digunakan untuk tempat kediaman atau tempat tinggal. Yang menjadi pegangan penyidik tetap rumusan dalam Penjelasan Pasal 477 KUHP sebagaimana termuat pada bagian Penjelasan unsur ini.
Putusan Nomor 189/Pid.B/2026/PN Stb
Menimbang bahwa berdasarkan keterangan Saksi-Saksi dan Terdakwa di persidangan diperoleh fakta hukum bahwa percobaan pencurian yang dilakukan oleh Terdakwa pada dini hari sekira pukul 02.30 WIB di dalam rumah milik korban, dimana kondisi masih gelap gulita sehingga dengan demikian unsur percobaan pencurian pada Malam dalam suatu rumah yang dilakukan oleh orang yang adanya di situ tidak diketahui dan tidak dikehendaki oleh yang berhak telah terpenuhi;
(Putusan PN Stabat Nomor 189/Pid.B/2026/PN Stb hlm. 14-15)
PENJELASAN PENYUSUN
Yang menguatkan unsur ini bukan sekadar jam kejadian, melainkan keadaan yang menyertainya, yaitu rumah dalam keadaan gelap, penghuni sudah tidur, pelaku masuk secara diam-diam, dan pelaku tidak dikenal oleh penghuni. Keadaan semacam inilah yang perlu digali dan dituangkan penyidik dalam berkas.
Perlu diperhatikan pula bahwa majelis menerapkan unsur ini pada perbuatan yang tidak selesai, yaitu percobaan. Terpenuhinya unsur huruf e tidak bergantung pada selesai atau tidaknya pengambilan.
Draft Pertanyaan Korban
1.
Tanyakan kapan perbuatan itu terjadi, dan bagaimana keadaan penerangan serta kegiatan penghuni pada saat itu (untuk menguatkan pembuktian perbuatan dilakukan pada Malam sesuai Pasal 186 KUHP)
2.
Tanyakan bangunan tersebut digunakan untuk apa sehari-hari, dan siapa saja yang tinggal di dalamnya (untuk menguatkan pembuktian tempat kejadian merupakan rumah, yaitu bangunan yang digunakan sebagai tempat kediaman)
3.
Tanyakan apakah terdapat pagar, tembok, atau tanda batas lain di sekeliling pekarangan, dan apakah di dalam pekarangan itu terdapat rumah (untuk menguatkan pembuktian tempat kejadian merupakan pekarangan tertutup yang ada rumahnya)
4.
Tanyakan apakah korban mengenal pelaku dan apakah pelaku pernah diberi izin untuk berada di dalam rumah tersebut (untuk menguatkan pembuktian keberadaan pelaku tidak diketahui atau tidak dikehendaki oleh yang berhak)
CATATAN PENTING:
Hindari pertanyaan yang bersifat menjerat. Pasal 144 huruf e KUHAP menentukan hak Korban untuk bebas dari pertanyaan yang menjerat. Pertanyaan menjerat adalah pertanyaan yang sudah memuat jawaban di dalamnya atau mengandaikan fakta yang belum terbukti.
(KUHAP hlm. 77)
Contoh pertanyaan 1 - Waktu kejadian:
✕
Menjerat: "Apakah kejadian itu berlangsung pada malam hari saat Saudara sudah tidur?"
✓
Benar: "Jelaskan kapan kejadian tersebut terjadi dan bagaimana keadaan rumah pada saat itu"
Contoh pertanyaan 2 - Penggunaan bangunan:
✕
Menjerat: "Bangunan tersebut adalah rumah tempat tinggal Saudara?"
✓
Benar: "Jelaskan bangunan tersebut digunakan untuk apa dan siapa saja yang tinggal di dalamnya"
Contoh pertanyaan 3 - Batas pekarangan:
✕
Menjerat: "Apakah pekarangan rumah Saudara dikelilingi pagar?"
✓
Benar: "Jelaskan keadaan di sekeliling pekarangan rumah Saudara"
Contoh pertanyaan 4 - Izin keberadaan pelaku:
✕
Menjerat: "Saudara tidak pernah mengizinkan orang tersebut masuk ke rumah?"
✓
Benar: "Apakah Saudara mengenal orang tersebut, dan apakah ia pernah Saudara izinkan berada di dalam rumah? Jelaskan"
Draft Pertanyaan Saksi
1.
Tanyakan kapan saksi mengetahui peristiwa tersebut dan bagaimana keadaan penerangan pada saat itu (untuk menguatkan pembuktian perbuatan dilakukan pada Malam)
2.
Tanyakan bagaimana keadaan tempat kejadian, apakah berupa rumah tempat tinggal atau pekarangan yang memiliki tanda batas (untuk menguatkan pembuktian tempat kejadian memenuhi rumusan Pasal 477 ayat (1) huruf e KUHP)
3.
Tanyakan bagaimana cara pelaku berada di dalam rumah tersebut menurut yang saksi lihat atau ketahui (untuk menguatkan pembuktian keberadaan pelaku tidak diketahui oleh yang berhak)
4.
Tanyakan apakah saksi mengenal pelaku dan apakah pelaku merupakan orang yang biasa berada di tempat itu (untuk menguatkan pembuktian keberadaan pelaku tidak dikehendaki oleh yang berhak)
CATATAN PENTING:
Hindari pertanyaan yang bersifat menjerat. Pasal 143 huruf f KUHAP menentukan hak Saksi untuk bebas dari pertanyaan yang menjerat. Pertanyaan menjerat adalah pertanyaan yang sudah memuat jawaban di dalamnya atau mengandaikan fakta yang belum terbukti.
(KUHAP hlm. 77)
Contoh pertanyaan 1 - Waktu dan penerangan:
✕
Menjerat: "Apakah pada saat itu lampu rumah sudah dimatikan semua?"
✓
Benar: "Jelaskan kapan Saudara mengetahui peristiwa tersebut dan bagaimana keadaan penerangan saat itu"
Contoh pertanyaan 2 - Keadaan tempat kejadian:
✕
Menjerat: "Peristiwa itu terjadi di dalam rumah tempat tinggal, bukan?"
✓
Benar: "Jelaskan di bagian mana peristiwa tersebut terjadi dan bagaimana keadaan tempat itu"
Contoh pertanyaan 3 - Cara pelaku berada di dalam:
✕
Menjerat: "Apakah pelaku masuk secara diam-diam melalui jendela?"
✓
Benar: "Jelaskan bagaimana orang tersebut dapat berada di dalam rumah menurut yang Saudara lihat atau ketahui"
Contoh pertanyaan 4 - Pengenalan terhadap pelaku:
✕
Menjerat: "Saudara tidak mengenal orang tersebut sama sekali?"
✓
Benar: "Apakah Saudara mengenal orang tersebut? Jelaskan"
Draft Pertanyaan Tersangka
1.
Tanyakan kapan tersangka berada di tempat tersebut dan apa yang dilakukannya pada saat itu (untuk menguatkan pembuktian perbuatan dilakukan pada Malam)
2.
Tanyakan bagaimana tersangka dapat berada di dalam rumah atau pekarangan tersebut (untuk menguatkan pembuktian keberadaan pelaku tidak diketahui oleh yang berhak)
3.
Tanyakan apakah tersangka mengenal pemilik rumah dan apakah pernah memperoleh izin untuk berada di tempat itu (untuk menguatkan pembuktian keberadaan pelaku tidak dikehendaki oleh yang berhak)
4.
Apabila barang belum sempat dibawa keluar, tanyakan apa yang menyebabkan perbuatan tersangka tidak selesai (guna menentukan berlakunya ketentuan percobaan Pasal 17 ayat (1) KUHP atau tidak dipidananya perbuatan menurut Pasal 18 ayat (1) KUHP)
CATATAN PENTING:
Hindari pertanyaan yang bersifat menjerat. Menurut Pasal 32 ayat (2) KUHAP, dalam hal Penyidik melakukan intimidasi dan/atau mengajukan pertanyaan yang bersifat menjerat terhadap Tersangka, Advokat atau Pemberi Bantuan Hukum dapat menyatakan keberatan, dan menurut ayat (3) keberatan itu dicatat dalam berita acara. Pertanyaan menjerat adalah pertanyaan yang sudah memuat jawaban di dalamnya atau mengandaikan fakta yang belum terbukti.
(KUHAP hlm. 23)
Contoh pertanyaan 1 - Waktu perbuatan:
✕
Menjerat: "Saudara memilih malam hari agar tidak ketahuan penghuni rumah?"
✓
Benar: "Jelaskan kapan Saudara berada di tempat tersebut dan apa yang Saudara lakukan di sana"
Contoh pertanyaan 2 - Cara berada di dalam:
✕
Menjerat: "Saudara masuk lewat jendela yang tidak terkunci?"
✓
Benar: "Jelaskan secara rinci bagaimana Saudara dapat berada di tempat tersebut"
Contoh pertanyaan 3 - Izin dan hubungan dengan pemilik:
✕
Menjerat: "Saudara tidak mengenal pemilik rumah dan tidak punya izin masuk?"
✓
Benar: "Jelaskan hubungan Saudara dengan pemilik tempat tersebut dan apakah Saudara pernah memperoleh izin untuk berada di sana"
Contoh pertanyaan 4 - Sebab perbuatan tidak selesai:
✕
Menjerat: "Saudara berhenti karena dipergoki penghuni rumah?"
✓
Benar: "Jelaskan apa yang terjadi pada saat itu"
PENJELASAN PENYUSUN
Jawaban atas pertanyaan 4 menentukan 3 kemungkinan yang berbeda jauh akibat hukumnya, yaitu perbuatan selesai sehingga dipidana penuh, perbuatan tidak selesai karena halangan dari luar sehingga menjadi percobaan dengan ancaman 2/3, atau pelaku berhenti atas kehendaknya sendiri sehingga menurut Pasal 18 ayat (1) KUHP tidak dipidana sama sekali. Karena itu keterangannya harus digali serinci mungkin dan dituangkan apa adanya, tanpa disimpulkan sendiri oleh penyidik.