Unsur dilakukan dengan merusak, membongkar, memotong, memecah, memanjat, memakai anak kunci palsu, menggunakan perintah palsu, atau memakai pakaian jabatan palsu
Penjelasan
Pasal 477 ayat (1) huruf f KUHP
(1)
Dipidana dengan pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun atau pidana denda paling banyak kategori V, Setiap Orang yang melakukan:
f.
pencurian dengan cara merusak, membongkar, memotong, memecah, Memanjat, memakai Anak Kunci Palsu, menggunakan perintah palsu, atau memakai pakaian jabatan palsu, untuk Masuk ke tempat melakukan Tindak Pidana atau sampai pada Barang yang diambil; atau
(KUHP hlm. 167)
Penjelasan Pasal 477 huruf f KUHP
Cukup jelas.
(KUHP hlm. 325)
DUA TUJUAN PENGGUNAAN CARA TERSEBUT:
PENJELASAN PENYUSUN
Rumusan pasal menyebut 2 tujuan, yaitu untuk Masuk ke tempat melakukan Tindak Pidana, atau untuk sampai pada Barang yang diambil. Keduanya dihubungkan dengan kata "atau", sehingga cukup salah satu terpenuhi. Dengan demikian, merusak kunci kontak kendaraan yang berada di dalam rumah pun sudah memenuhi unsur ini, meskipun pelaku masuk melalui pintu yang tidak terkunci.
Cara-cara yang disebutkan juga bersifat pilihan, sehingga terpenuhinya salah satu cara sudah cukup untuk memenuhi unsur ini.
ISTILAH YANG DIRUMUSKAN DALAM KUHP:
Pasal 164 KUHP
Masuk adalah termasuk mengakses Komputer atau Masuk ke dalam sistem Komputer.
(KUHP hlm. 55)
Pasal 165 KUHP
Memanjat adalah termasuk Masuk dengan melalui lubang yang sudah ada tetapi tidak untuk tempat orang lewat, atau Masuk melalui lubang dalam tanah yang sengaja digali, atau Masuk melalui atau menyeberangi selokan atau parit yang gunanya sebagai pembatas halaman.
(KUHP hlm. 55)
Pasal 166 KUHP
Anak Kunci Palsu adalah anak kunci duplikat termasuk juga segala perkakas, sistem elektronik, atau yang disamakan dengan itu yang tidak dimaksudkan untuk membuka kunci yang digunakan untuk membuka kunci.
(KUHP hlm. 55)
PENJELASAN PENYUSUN
Rumusan Anak Kunci Palsu ini luas, sehingga tidak terbatas pada kunci duplikat. Alat apa pun yang sebenarnya bukan diperuntukkan membuka kunci, tetapi dipakai untuk membuka kunci, termasuk dalam pengertian ini.
ISTILAH YANG TIDAK DIRUMUSKAN DALAM KUHP:
PENJELASAN PENYUSUN
Istilah merusak, membongkar, memotong, memecah, perintah palsu, dan pakaian jabatan palsu tidak dirumuskan dalam Bab Ketentuan Umum KUHP maupun dalam Penjelasan Pasal 477, sehingga pemaknaannya diserahkan pada praktik peradilan. Rumusan yang dipakai majelis hakim atas istilah-istilah tersebut dapat dilihat pada bagian Contoh Putusan Pengadilan.
KETERKAITAN DENGAN HURUF E DAN HURUF G:
Pasal 477 ayat (2) KUHP
(2)
Jika perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e disertai dengan salah satu cara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf f dan huruf g, dipidana dengan pidana penjara paling lama 9 (sembilan) tahun.
(KUHP hlm. 167)
BATAS DENGAN PENCURIAN RINGAN:
Pasal 478 KUHP
Jika Tindak Pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 476 dan Pasal 477 ayat (1) huruf f dan huruf g dilakukan tidak dalam sebuah rumah atau pekarangan tertutup yang ada rumahnya, dan harga Barang yang dicurinya tidak lebih dari Rp500.000,00 (lima ratus ribu rupiah), dipidana karena pencurian ringan, dengan pidana denda paling banyak kategori II.
(KUHP hlm. 167)
PENJELASAN PENYUSUN
Pasal 478 KUHP menyebut huruf f secara tegas. Karena itu penyidik wajib memeriksa 2 hal sebelum menerapkan huruf f, yaitu apakah perbuatan dilakukan di luar rumah atau pekarangan tertutup yang ada rumahnya, dan berapa harga Barang yang dicuri. Apabila keduanya terpenuhi, yang berlaku adalah Pasal 478 KUHP dengan ancaman pidana denda, bukan Pasal 477 KUHP dengan ancaman pidana penjara 7 tahun.
Pembuktian
PENJELASAN PENYUSUN
Seluruh isi bagian ini adalah rumusan/penjelasan penyusun, bukan kutipan sumber
Unsur ini dinyatakan terpenuhi apabila penyidik dapat membuktikan 2 hal:
1.
Pelaku menggunakan salah satu cara yang disebut dalam pasal
Buktikan bahwa pelaku merusak, membongkar, memotong, memecah, Memanjat, memakai Anak Kunci Palsu, menggunakan perintah palsu, atau memakai pakaian jabatan palsu. Cara-cara tersebut bersifat pilihan, sehingga cukup salah satu dibuktikan.
Pembuktiannya melalui:
•
Barang bukti berupa alat yang digunakan pelaku, misalnya kunci T, linggis, obeng, atau kunci duplikat
•
Barang bukti berupa bagian bangunan atau benda yang rusak, misalnya grendel pintu, kaca jendela, gembok, atau kunci kontak kendaraan
•
Berita acara pemeriksaan tempat kejadian perkara yang memuat keadaan kerusakan
•
Foto dan sketsa yang memperlihatkan letak dan bentuk kerusakan
•
Keterangan korban dan saksi mengenai keadaan sebelum dan sesudah kejadian
•
Keterangan tersangka mengenai alat yang dibawa dan cara penggunaannya
2.
Cara tersebut digunakan untuk Masuk ke tempat melakukan Tindak Pidana atau untuk sampai pada Barang yang diambil
Buktikan adanya hubungan antara cara yang digunakan dengan tujuan Masuk atau tujuan mencapai Barang. Kedua tujuan itu juga bersifat pilihan, sehingga cukup salah satu terpenuhi.
Pembuktiannya melalui:
•
Uraian kronologis yang menunjukkan urutan perbuatan pelaku sejak mendekati lokasi hingga mencapai Barang
•
Keterangan mengenai bagian mana yang dirusak dan untuk keperluan apa
•
Kesesuaian antara bentuk kerusakan dengan alat yang disita
•
Keterangan ahli apabila diperlukan untuk menerangkan sebab kerusakan
HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN:
Unsur ini tetap terpenuhi meskipun pelaku masuk melalui pintu atau jendela yang tidak terkunci, sepanjang pelaku merusak sesuatu untuk sampai pada Barang yang diambil, misalnya membobol kunci kontak kendaraan. Tujuan Masuk dan tujuan mencapai Barang berdiri sendiri-sendiri.
Sebaliknya, apabila pelaku hanya mengangkat pintu dari engselnya tanpa menimbulkan kerusakan sama sekali, hal itu tidak termasuk pengertian merusak menurut praktik peradilan. Karena itu penyidik wajib memastikan dan mendokumentasikan adanya barang yang benar-benar rusak, putus, atau pecah. Rumusan majelis mengenai hal ini dapat dilihat pada bagian Contoh Putusan Pengadilan.
Pengertian Anak Kunci Palsu dalam Pasal 166 KUHP luas dan tidak terbatas pada kunci duplikat. Alat apa pun yang sebenarnya bukan diperuntukkan membuka kunci tetapi dipakai untuk membuka kunci termasuk di dalamnya. Penyidik menyita alat tersebut dan menguraikan cara pemakaiannya, bukan sekadar menyebut namanya.
Sebelum menerapkan huruf f, penyidik wajib memeriksa Pasal 478 KUHP. Apabila perbuatan dilakukan tidak dalam sebuah rumah atau pekarangan tertutup yang ada rumahnya, dan harga Barang yang dicuri tidak lebih dari Rp500.000,00, yang berlaku adalah pencurian ringan dengan ancaman pidana denda paling banyak kategori II, bukan pidana penjara 7 tahun. Harga Barang karena itu wajib diuraikan dalam berkas.
Penyidik juga wajib memeriksa apakah perbuatan dilakukan pada Malam di dalam rumah atau pekarangan tertutup sebagaimana huruf e, atau dilakukan bersama-sama dan bersekutu sebagaimana huruf g. Apabila huruf e terpenuhi dan disertai cara huruf f dan huruf g, yang berlaku adalah Pasal 477 ayat (2) KUHP dengan ancaman pidana penjara paling lama 9 tahun.
Apabila pelaku sudah mulai melaksanakan perbuatan tetapi tidak selesai bukan semata-mata karena kehendaknya sendiri, misalnya dipergoki atau ditangkap, penyidik harus menerapkan Pasal 477 ayat (1) huruf f juncto Pasal 17 ayat (1) KUHP tentang percobaan. Konsekuensinya, berdasarkan Pasal 17 ayat (3) KUHP ancaman pidana menjadi paling banyak 2/3 dari maksimum ancaman pidana pokok. Sebaliknya, apabila pelaku tidak menyelesaikan perbuatannya karena kehendaknya sendiri secara sukarela, maka berdasarkan Pasal 18 ayat (1) KUHP perbuatan tersebut tidak dipidana.
Contoh Putusan Pengadilan
Putusan Nomor 189/Pid.B/2026/PN Stb
Menimbang bahwa sub unsur dalam unsur a quo bersifat alternatif sehingga jika salah satu sub unsur terpenuhi maka telah terpenuhi pula unsur a quo;
(Putusan PN Stabat Nomor 189/Pid.B/2026/PN Stb hlm. 15)
Putusan Nomor 189/Pid.B/2026/PN Stb
Menimbang bahwa agar unsur a quo dapat terpenuhi apabila dalam pencurian itu pencuri masuk ke tempat kejahatan atau mencapai barang yang dicurinya dengan jalan merusak, memotong, atau memanjat atau dengan memakai anak kunci palsu, perintah palsu, atau pakaian jabatan palsu;
(Putusan PN Stabat Nomor 189/Pid.B/2026/PN Stb hlm. 15)
MERUSAK ATAU MEMOTONG:
Putusan Nomor 189/Pid.B/2026/PN Stb
Menimbang bahwa merusak atau memotong adalah merusak barang yang agak besar, misalnya membongkar tembok, pintu jendela, disini harus ada barang yang rusak, putus, atau pecah, sedangkan pencuri yang mengangkat pintu dari engselnya sedang engsel itu tidak ada kerusakan sama sekali tidak masuk pengertian merusak atau memotong;
(Putusan PN Stabat Nomor 189/Pid.B/2026/PN Stb hlm. 15)
PENJELASAN PENYUSUN
Rumusan ini penting bagi penyidik karena memberi batas yang tegas: harus ada barang yang benar-benar rusak, putus, atau pecah. Kerusakan itu wajib disita, difoto, dan diuraikan dalam berita acara pemeriksaan tempat kejadian perkara, bukan sekadar disebutkan dalam uraian kronologis.
MEMANJAT DAN ANAK KUNCI PALSU:
Putusan Nomor 189/Pid.B/2026/PN Stb
Menimbang bahwa berdasarkan Pasal 165 KUHP yang dimaksud dengan memanjat adalah termasuk Masuk dengan melalui lubang yang sudah ada tetapi tidak untuk tempat orang lewat, atau Masuk melalui lubang dalam tanah yang sengaja digali, atau Masuk melalui atau menyeberangi selokan atau parit yang gunanya sebagai pembatas halaman;
(Putusan PN Stabat Nomor 189/Pid.B/2026/PN Stb hlm. 15)
Putusan Nomor 189/Pid.B/2026/PN Stb
Menimbang bahwa yang dimaksud memakai anak kunci palsu berdasarkan Pasal 166 KUHP adalah anak kunci duplikat termasuk juga segala perkakas, sistem elektronik, atau yang disamakan dengan itu yang tidak dimaksudkan untuk membuka kunci yang digunakan untuk membuka kunci;
(Putusan PN Stabat Nomor 189/Pid.B/2026/PN Stb hlm. 15)
PENJELASAN PENYUSUN
Pada 2 istilah ini majelis mengambil rumusannya langsung dari Pasal 165 dan Pasal 166 KUHP, sehingga tidak berbeda dari sumber undang-undangnya.
PERINTAH PALSU DAN PAKAIAN JABATAN PALSU:
Putusan Nomor 189/Pid.B/2026/PN Stb
Menimbang bahwa yang dimaksud perintah palsu yaitu suatu perintah yang kelihatannya seperti surat perintah asli yang dikeluarkan oleh orang yang berwajib tapi sebenarnya bukan, misalnya seorang pencuri yang berlagak seperti tukang listrik dengan membawa surat keterangan palsu dari pembesar perusahaan listrik dapat masuk ke dalam rumah tetapi ternyata bahwa surat keterangan itu palsu;
(Putusan PN Stabat Nomor 189/Pid.B/2026/PN Stb hlm. 15)
Putusan Nomor 189/Pid.B/2026/PN Stb
Menimbang bahwa yang dimaksud pakaian jabatan palsu adalah pakaian yang digunakan oleh orang sedang ia tidak berhak untuk itu, misalnya pencuri dengan memakai seragam polisi dan pura-pura sebagai seorang polisi dapat masuk ke dalam rumah orang dan mencuri barang;
(Putusan PN Stabat Nomor 189/Pid.B/2026/PN Stb hlm. 15)
PENERAPAN PADA PERKARA:
Putusan Nomor 189/Pid.B/2026/PN Stb
Menimbang bahwa oleh karena semua unsur dari Pasal 477 ayat (1) huruf e dan huruf f jo. Pasal 17 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHPidana terpenuhi, maka Terdakwa haruslah dinyatakan telah terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana sebagaimana didakwakan dalam dakwaan tunggal;
(Putusan PN Stabat Nomor 189/Pid.B/2026/PN Stb hlm. 16)
PENJELASAN PENYUSUN
Dalam putusan ini majelis menyatakan unsur huruf f terpenuhi karena pelaku membuka paksa pintu hingga grendelnya rusak. Perlu diperhatikan bahwa pelaku juga membobol kunci kontak kendaraan dengan alat yang bukan diperuntukkan membuka kunci, dan perbuatan itu sendiri sudah memenuhi tujuan sampai pada Barang yang diambil, terlepas dari cara masuknya.
Perlu diperhatikan pula bahwa huruf e dan huruf f diterapkan bersama-sama dalam putusan ini, dan keduanya dihubungkan dengan Pasal 17 ayat (1) KUHP karena perbuatan tidak selesai.
Draft Pertanyaan Korban
1.
Tanyakan bagian mana dari rumah, pekarangan, atau benda yang mengalami kerusakan setelah kejadian (untuk menguatkan pembuktian adanya perbuatan merusak, membongkar, memotong, atau memecah)
2.
Tanyakan bagaimana keadaan bagian tersebut sebelum kejadian, apakah dalam keadaan utuh dan terkunci (untuk menguatkan pembuktian bahwa kerusakan itu timbul akibat perbuatan pelaku)
3.
Tanyakan bagaimana pelaku dapat masuk atau mencapai barang yang diambil menurut pengetahuan korban (untuk menguatkan pembuktian hubungan antara cara yang digunakan dengan tujuan Masuk atau mencapai Barang)
4.
Tanyakan berapa harga barang yang diambil (guna memeriksa kemungkinan berlakunya Pasal 478 KUHP tentang pencurian ringan)
5.
Apabila pelaku mengaku sebagai petugas, tanyakan apakah pelaku menunjukkan surat perintah, mengaku sebagai petugas tertentu, atau mengenakan pakaian seragam pada saat kejadian (untuk menguatkan pembuktian penggunaan perintah palsu atau pakaian jabatan palsu)
CATATAN PENTING:
Hindari pertanyaan yang bersifat menjerat. Pasal 144 huruf e KUHAP menentukan hak Korban untuk bebas dari pertanyaan yang menjerat. Pertanyaan menjerat adalah pertanyaan yang sudah memuat jawaban di dalamnya atau mengandaikan fakta yang belum terbukti.
(KUHAP hlm. 77)
Contoh pertanyaan 1 - Bagian yang rusak:
✕
Menjerat: "Apakah grendel pintu rumah Saudara rusak akibat didobrak pelaku?"
✓
Benar: "Jelaskan bagian mana saja yang mengalami kerusakan setelah kejadian tersebut"
Contoh pertanyaan 2 - Keadaan sebelum kejadian:
✕
Menjerat: "Sebelum kejadian pintu tersebut dalam keadaan terkunci rapat, bukan?"
✓
Benar: "Jelaskan bagaimana keadaan bagian tersebut sebelum kejadian"
Contoh pertanyaan 3 - Cara pelaku masuk:
✕
Menjerat: "Pelaku masuk dengan cara merusak pintu?"
✓
Benar: "Jelaskan bagaimana orang tersebut dapat masuk atau mencapai barang menurut yang Saudara ketahui"
Contoh pertanyaan 5 - Perintah atau pakaian jabatan:
✕
Menjerat: "Pelaku mengaku sebagai petugas agar bisa masuk?"
✓
Benar: "Jelaskan apakah orang tersebut menunjukkan surat, mengaku sebagai petugas, atau mengenakan seragam tertentu"
PENJELASAN PENYUSUN
Pertanyaan 4 mengenai harga barang wajib diajukan pada unsur ini. Pasal 478 KUHP menyebut huruf f secara tegas, sehingga pencurian dengan cara sebagaimana huruf f yang dilakukan di luar rumah atau pekarangan tertutup yang ada rumahnya, dengan harga barang tidak lebih dari Rp500.000,00, berubah menjadi pencurian ringan dengan ancaman pidana denda. Keterangan korban mengenai harga dicatat apa adanya dan dikuatkan dengan bukti lain apabila ada.
Draft Pertanyaan Saksi
1.
Tanyakan apa yang saksi lihat dilakukan pelaku terhadap pintu, jendela, pagar, kunci, atau benda lain di tempat kejadian (untuk menguatkan pembuktian adanya perbuatan merusak, membongkar, memotong, memecah, atau Memanjat)
2.
Tanyakan apakah saksi melihat pelaku membawa atau menggunakan alat tertentu, dan alat itu digunakan untuk apa (untuk menguatkan pembuktian penggunaan Anak Kunci Palsu sesuai Pasal 166 KUHP)
3.
Tanyakan bagaimana keadaan bagian yang rusak tersebut sebelum kejadian menurut pengetahuan saksi (untuk menguatkan pembuktian bahwa kerusakan timbul akibat perbuatan pelaku)
CATATAN PENTING:
Hindari pertanyaan yang bersifat menjerat. Pasal 143 huruf f KUHAP menentukan hak Saksi untuk bebas dari pertanyaan yang menjerat. Pertanyaan menjerat adalah pertanyaan yang sudah memuat jawaban di dalamnya atau mengandaikan fakta yang belum terbukti.
(KUHAP hlm. 77)
Contoh pertanyaan 1 - Perbuatan terhadap benda:
✕
Menjerat: "Apakah Saudara melihat pelaku mendobrak pintu warung?"
✓
Benar: "Jelaskan apa yang Saudara lihat dilakukan orang tersebut di tempat kejadian"
Contoh pertanyaan 2 - Alat yang digunakan:
✕
Menjerat: "Pelaku membawa kunci T untuk membobol kunci kontak?"
✓
Benar: "Apakah Saudara melihat orang tersebut membawa atau menggunakan alat tertentu? Jelaskan"
Contoh pertanyaan 3 - Keadaan sebelum kejadian:
✕
Menjerat: "Jendela itu sebelumnya dalam keadaan tertutup dan terkunci?"
✓
Benar: "Jelaskan bagaimana keadaan bagian tersebut sebelum kejadian menurut yang Saudara ketahui"
Draft Pertanyaan Tersangka
1.
Tanyakan bagaimana tersangka dapat berada di tempat kejadian dan bagaimana dapat mencapai barang tersebut (untuk menguatkan pembuktian hubungan antara cara yang digunakan dengan tujuan Masuk atau mencapai Barang)
2.
Tanyakan alat apa yang dibawa tersangka, sejak kapan disiapkan, dan digunakan untuk apa (untuk menguatkan pembuktian penggunaan Anak Kunci Palsu sesuai Pasal 166 KUHP sekaligus menggali kesengajaan)
3.
Tanyakan bagian mana yang mengalami kerusakan dan bagaimana kerusakan itu terjadi (untuk menguatkan pembuktian adanya barang yang benar-benar rusak, putus, atau pecah)
4.
Apabila tersangka masuk melalui bagian selain pintu, tanyakan melalui bagian mana tersangka masuk ke tempat tersebut (untuk menguatkan pembuktian perbuatan Memanjat sesuai Pasal 165 KUHP)
5.
Apabila tersangka menyamar, tanyakan apakah tersangka menunjukkan surat perintah, mengaku sebagai petugas, atau mengenakan pakaian seragam tertentu (untuk menguatkan pembuktian penggunaan perintah palsu atau pakaian jabatan palsu)
CATATAN PENTING:
Hindari pertanyaan yang bersifat menjerat. Menurut Pasal 32 ayat (2) KUHAP, dalam hal Penyidik melakukan intimidasi dan/atau mengajukan pertanyaan yang bersifat menjerat terhadap Tersangka, Advokat atau Pemberi Bantuan Hukum dapat menyatakan keberatan, dan menurut ayat (3) keberatan itu dicatat dalam berita acara. Pertanyaan menjerat adalah pertanyaan yang sudah memuat jawaban di dalamnya atau mengandaikan fakta yang belum terbukti.
(KUHAP hlm. 23)
Contoh pertanyaan 1 - Cara masuk dan mencapai barang:
✕
Menjerat: "Saudara mendobrak pintu warung lalu masuk lewat jendela rumah?"
✓
Benar: "Jelaskan secara rinci bagaimana Saudara dapat berada di tempat tersebut"
Contoh pertanyaan 2 - Alat yang dibawa:
✕
Menjerat: "Saudara sudah menyiapkan kunci T dari rumah untuk membobol kunci kontak?"
✓
Benar: "Jelaskan alat apa yang Saudara bawa pada saat itu, sejak kapan Saudara menyiapkannya, dan untuk apa"
Contoh pertanyaan 3 - Bagian yang rusak:
✕
Menjerat: "Saudara merusak grendel pintu agar bisa masuk?"
✓
Benar: "Jelaskan bagaimana kerusakan pada bagian tersebut dapat terjadi"
Contoh pertanyaan 4 - Perbuatan memanjat:
✕
Menjerat: "Saudara memanjat pagar untuk masuk ke pekarangan?"
✓
Benar: "Jelaskan melalui bagian mana Saudara dapat berada di tempat tersebut"
Contoh pertanyaan 5 - Penyamaran:
✕
Menjerat: "Saudara mengaku sebagai petugas agar diizinkan masuk?"
✓
Benar: "Jelaskan apakah Saudara menunjukkan surat, mengaku sebagai petugas, atau mengenakan seragam tertentu pada saat itu"
PENJELASAN PENYUSUN
Keterangan mengenai alat yang dibawa dan sejak kapan disiapkan pada pertanyaan 2 tidak hanya menguatkan unsur ini, tetapi juga menguatkan unsur maksud untuk dimiliki, karena menunjukkan niat sudah ada sebelum pengambilan dilakukan. Keterangan mengenai bagian yang rusak pada pertanyaan 3 harus dicocokkan dengan barang bukti dan hasil pemeriksaan tempat kejadian perkara, sebab unsur ini mensyaratkan adanya barang yang benar-benar rusak, putus, atau pecah.